
Bola mata sebelah kiri telah hilang, hampir setengah wajah Abah Koko pun sudah hancur akibat kanker kulit yang tak kunjung diobati.

“Tiap keliling, banyak orang yang ngehindar dan ngejauhin karena mungkin takut dengan wajah Abah. Apalagi kadang baunya menyengat. Dagangan Abah jadi susah laku. Terus bagaimana caranya Abah bisa berobat?”, ucap Abah Koko.
Sungguh miris melihat kehidupan Abah Koko. Sudah bertahun-tahun beliau hidup dengan luka yang menganga di wajahnya akibat kanker kulit yang dideritanya. Hampir separuh wajah beliau sudah hancur, bahkan mata kirinya pun sudah hilang.
Tidak ada barang berharga di rumah Abah yang bisa beliau jual. Abah pernah sekali memeriksakan lukanya ke puskesmas dan dirujuk ke RS kota. Namun Abah urungkan, karena tidak mempunyai cukup biaya. Akhirnya, Abah hanya mengobati lukanya dengan seadanya.
Sedihnya, dengan kondisi Abah yang terus menurun, Abah masih dipaksa untuk bekerja berjualan kerupuk setiap hari. Pasalnya, jika Abah tidak bekerja anak-anak Abah tidak bisa makan.

Menjual kerupuk dengan kondisi luka menganga yang dialami Abah pun tidaklah mudah. Dagangan beliau sering tidak laku. Kebanyakan orang sudah terlanjur jijik dan takut dengan wajah Abah.
“Selain banyak orang yang takut wajah saya, debu dan kotoran yang ada di jalanan sering masuk. Rasanya sakit. Tiap sampai rumah, saya cuma bisa membilasnya dengan air dingin saja”
Dalam sehari, bisa menjual 5 plastik kerupuk sudah sangat Abah syukuri. Paling banyak Abah hanya mendapat 25 ribu saja tiap harinya. Itupun masih harus beliau bagi dua dengan pemilik kerupuk karena Abah mengambil kerupuknya dari warung dekat rumah Abah.
Tak jarang, banyak orang yang memberi Abah uang tapi tidak mau menerima kerupuk jualan Abah. Orang-orang ini hanya kasian kepada Abah.
“Kadang sedih kalau ada orang yang ngasih uang tapi ngga mau nerima kerupuk dari Abah. Abah ini kan jualan, pengen banget dagangannya laku. Tapi Abah bingung juga. Kalau Abah nggak nerima uang itu, anak-anak Abah nggak bisa makan…”
Menjalani hari-hari dengan penuh rasa sakit dan keprihatinan sungguh tidak mudah bagi Abah. Namun Abah tidak pernah berputus asa. Beliau percaya, Tuhan akan mengabulkan doa-doa beliau untuk bisa berobat, sembuh, dan bisa terus nafkahi keluarganya suatu saat nanti.
![]()
Belum ada Fundraiser