

Di usianya yang hampir satu abad, 91 tahun, Kakek Juhani masih harus berjalan berkeliling kampung menjajakan ayakan bambu dan boboko.
Meski langkahnya sering terasa berat, tubuhnya sudah renta, dan napasnya kerap sesak, ia tetap memaksakan diri berjualan demi mencari nafkah.
Bagi Kakek Juhani, usia hanyalah angka. Selama tubuhnya masih mampu berjalan, ia akan terus berusaha. Panas terik ia lalui, hujan pun ia terobos demi bisa membawa pulang sedikit uang untuk makan bersama sang istri di rumah.
Namun di balik semangatnya itu, Kakek Juhani menyimpan sakit yang tak ringan. Ia menderita sesak napas. Saat berjalan jauh sambil memikul dagangannya, ia sering kelelahan hingga napasnya tersengal-sengal. Bahkan pernah suatu waktu ia pingsan di pinggir jalan karena terlalu lelah dan sesaknya semakin berat.
Meski begitu, Kakek Juhani tetap bangkit dan melanjutkan langkahnya.
Dengan ayakan dan boboko yang dipikul di pundaknya, ia berjalan dari satu kampung ke kampung lain. Berhenti di beberapa tempat, menunggu ada orang yang mau membeli dagangannya.
Sayangnya, dagangannya tidak selalu laku.
Kadang hanya satu boboko yang terjual. Itu pun hasilnya harus dibagi dua dengan pemilik barang, karena ayakan dan boboko yang ia jual bukan miliknya sendiri.
Penghasilannya sangat kecil dan tidak menentu.
Kadang dagangannya tidak laku sama sekali. Dan ia harus pulang dengan langkah berat, membawa barang dagangan yang masih utuh tanpa sepeser pun uang di tangan.
Meski tubuhnya semakin lemah dan napasnya sering tersengal, Kakek Juhani tidak pernah mengeluh. Ia hanya terus berusaha menjalani hari-harinya dengan sabar.
“Saya terpaksa harus jualan walaupun sakit… karena kalau tidak jualan saya tidak bisa makan,” ucapnya lirih.
#OrangBaik,
Di usia yang sudah sangat renta, Kakek Juhani masih harus berjuang keras demi bertahan hidup.
Mari kita bantu ringankan perjuangan Kakek Juhani, agar beliau tidak lagi harus berjalan jauh memaksakan tubuhnya yang sudah lemah hanya untuk sekadar bisa makan hari ini.
![]()
Belum ada Fundraiser