
Di usia 63 tahun, Nenek Ari seharusnya menikmati hari-hari tenang bersama anak dan cucunya.
Namun hidup berkata lain. Di usia senja, ia justru harus memikul beban yang sangat berat sendirian.
Cucu satu-satunya, Adam (16 tahun), kini hidup dalam rasa sakit yang tak pernah reda. Bola mata kanan Adam menonjol keluar hingga hampir sebesar kepalan tangan orang dewasa. Setiap hari dan setiap malam, Adam menahan nyeri yang luar biasa. Tangis dan erangan kesakitan menjadi suara yang paling sering terdengar di rumah kecil mereka.
Adam adalah anak yatim piatu. Sejak kecil, ia ditinggalkan kedua orang tuanya dan hanya diasuh oleh neneknya. Tak ada ayah, tak ada ibu, hanya Nenek Ari satu-satunya tempat bergantung.
Karena kondisi Adam yang semakin parah, ia terpaksa berhenti sekolah. Cita-citanya harus tertunda, hari-harinya kini hanya dihabiskan di atas kursi roda, ditemani nenek yang setia berada di sisinya.
Penyakit Adam mulai memburuk sejak September 2025. Awalnya hanya terlihat seperti bintik kecil, namun lama-kelamaan membesar dan berubah drastis hingga seperti sekarang. Sejak itu, hidup mereka perlahan runtuh.
Untuk bertahan hidup, Nenek Ari berjualan gorengan keliling setiap hari. Dengan tubuh yang sudah tak lagi kuat, ia tetap berjalan dari satu tempat ke tempat lain, sambil mendorong kursi roda Adam. Penghasilannya sangat kecil, paling sekitar Rp40.000 sehari, itu pun jika dagangannya laku. Jumlah tersebut bahkan sering kali tidak cukup untuk makan sehari-hari mereka berdua.
Namun Nenek Ari tak pernah mengeluh. Ia tetap berjalan, tetap berjualan, tetap bertahan.
Karena jika ia berhenti, Adam tak punya siapa-siapa lagi.
Di usia senjanya, Nenek Ari harus menjadi segalanya bagi Adam: nenek, orang tua, sekaligus pelindung.
Sementara Adam hanya bisa bertahan menahan sakit, berharap ada keajaiban dan uluran tangan dari orang-orang baik.
![]()
Belum ada Fundraiser