

Arfan (13 tahun) dulunya adalah anak yang ceria, aktif, dan penuh semangat belajar.
Ia gemar bermain dan bercita-cita sederhana seperti anak seusianya. Namun, semua itu perlahan hilang sejak tubuhnya mulai diserang kondisi langka yang mengubah hidupnya.

Sudah 3 tahun lamanya Arfan berjuang melawan ujian yang sangat berat.
Kulitnya melepuh dan mengelupas hampir di seluruh tubuh dan hanya tersisa dagingnya saja. Setiap sentuhan terasa perih. Setiap gerakan mendatangkan penderitaan yang luar biasa. Kini, Arfan hanya bisa terbaring lemah di atas kasur, menahan nyeri yang datang tanpa henti.

3 tahun lamanya Arfan harus bertahan hidup dengan kulit yang hancur diseluruh tubuhnya.

Tak hanya itu, kondisi Arfan juga diperberat dengan tubuhnya yang pernah mengalami kerusakan sumsum tulang belakang, kehilangan fungsi paru-paru, serta sering mengalami kejang-kejang yang kian hari semakin melemahkan tubuhnya. Berbagai keadaan sulit ini membuat kondisi Arfan sangat rentan dan tidak bisa beraktivitas sebagaimana mestinya.
Setiap hari dan setiap malam, Arfan sering kesulitan tidur.
Tangisnya kerap pecah di tengah malam, bukan karena rewel, tapi karena tubuh kecilnya tak sanggup lagi menahan berbagai rasa perih yang tak tertahankan. Ia tak bisa bermain, tak bisa sekolah, bahkan untuk duduk pun sering kali tak kuat.
Di samping Arfan, ada Bu Muniati, ibunya, yang setia merawat anaknya seorang diri.
Seharusnya Arfan mendapatkan dukungan penuh dari kedua orang tuanya. Namun, di saat Arfan paling membutuhkan kehadiran seorang ayah, ayahnya justru pergi dan meninggalkan mereka tanpa kabar dan tanpa tanggung jawab.
Sejak itu, Bu Muniati berjuang sendirian.
Ia mengurus Arfan siang dan malam, menyuapi, bagian tubuh Arfan dibersihkan perlahan dan telaten, meski setiap sentuhan menghadirkan perih yang membuatnya meringis menahan derita. Dunia Bu Muniati seolah runtuh, tapi ia tetap bertahan demi satu hal: anaknya.
Kini, Bu Muniati dan Arfan hanya bisa menumpang tinggal di rumah adiknya.
Kebutuhan makan, minum, dan keperluan sehari-hari sepenuhnya bergantung pada bantuan sang adik, yang kondisi ekonominya pun sangat terbatas. Untuk biaya pengobatan Arfan, Bu Muniati sudah mencoba meminjam uang ke tetangga dan sanak saudara, namun itu pun tak cukup untuk menutup kebutuhan yang terus berjalan.

Dari berjualan gorengan dan lontong, ibunda Arfan hanya mampu membawa pulang sekitar Rp40.000 per hari, angka kecil yang harus dipaksakan untuk menutup kebutuhan hidup yang terus datang tanpa henti.
Di tengah keterbatasan dan kelelahan, Bu Muniati hanya bisa berdoa.
Ia berharap ada orang-orang baik yang mau membantu meringankan perjuangan mereka, agar Arfan bisa terlepas dari penderitaan dan bisa beraktivitas Kembali.
#OrangBaik,
Arfan masih sangat muda. Tubuhnya masih kecil, tapi beban yang ia tanggung begitu besar.
Ia membutuhkan dukungan kita semua agar bisa terus menjalani kehidupan yang layak.
Mari kita bantu Arfan dan ibunya agar mereka tidak berjuang sendirian.
Sekecil apa pun bantuanmu sangat berarti untuk meringankan penderitaan seorang ibu yang berusaha menghidupi anaknya yang sedang berjuang mempertahankan hidupnya.
Cara Berdonasi:
Setiap uluran tanganmu adalah harapan bagi Arfan,
dan kekuatan baru bagi seorang ibu yang tak pernah berhenti berjuang demi anaknya.
![]()
Belum ada Fundraiser