
Sudah sekitar 3 bulan Bu Nengsih tidak mendengar kabar dari suaminya yang bekerja sebagai nelayan di laut. Tidak tahu di mana suaminya berada dan bagaimana keadaannya, Bu Nengsih terpaksa berjuang seorang diri agar keluarganya bisa bertahan.
Setiap pagi ia berjualan nasi uduk keliling. Namun dagangan itu bukan miliknya sendiri. Bu Nengsih hanya membantu menjualkan dagangan orang lain dan mendapatkan keuntungan sekitar Rp30.000-Rp50.000/hari. Itu pun tidak selalu karena tergantung dari dagangan habis atau tidak.

Penghasilan sekecil itu harus digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ada satu hal lagi yang begitu darurat untuk dipikirkan oleh Bu Nengsih. Dede Rianto, anaknya yang baru berusia 9 tahun sedang menderita tumor tulang ganas.

Demi mendapatkan pertolongan untuk anaknya, Bu Nengsih bahkan rela menjual sepeda satu-satunya. Sayangnya hingga kini perjuangan belum selesai. Kaki Dede terus membengkak dan rasa sakitnya semakin berat.
Berawal dari jatuh di kamar mandi sekolah, kaki Dede terbentur lantai dan memar. Karena keterbatasan biaya, Dede hanya dirawat seadanya di rumah. Sekitar 4 bulan kemudian, muncul pembengkakan di bagian lutut. Bukannya membaik, justru semakin membesar dari hari ke hari.

Setiap malam Bu Nengsih harus mendengar erangan dan tangis putranya menahan sakit. Kondisi Dede sudah sangat mengkhawatirkan. Jika tidak segera mendapatkan penanganan yang dibutuhkan, Dede terancam harus kehilangan kakinya melalui amputasi.
“Nggak kuat, Mah... Dede pengen sembuh. Dede pengen sehat. Dede pengen bisa sekolah lagi.” tangis Dede ketika sakit di kakinya semakin hebat.
#OrangBaik, perjuangan seorang ibu ini terlalu berat jika harus ditanggung sendirian. Mari bantu ringankan beban di pundak Bu Nengsih. Mari kita ulurkan tangan dan menunjukkan kepedulian padanya dengan cara:
![]()
Belum ada Fundraiser