

Punggungnya telah membungkuk.
Wajahnya dipenuhi keriput.
Langkahnya tersendat-sendat setiap kali berjalan.
Namun usia senja dan tubuh yang semakin renta tak membuat Abah Entun berhenti berjuang.
Di usia 84 tahun, saat banyak orang seusianya menikmati masa tua bersama keluarga, Abah Entun justru masih harus turun ke jalan mencari nafkah.
Setiap pagi buta, sebelum matahari terbit, Abah Entun sudah bersiap meninggalkan rumah.
Dengan langkah perlahan, ia berjalan menyusuri kampung dan jalanan sambil memikul dagangan kue basah.
Kue-kue itu bukan miliknya.
Abah Entun hanya membantu menjualkan kue basah milik orang lain agar bisa mendapatkan sedikit penghasilan.
Jika kue-kue itu habis terjual, Abah Entun akan mendapatkan upah.
Namun jika tidak laku, ia harus pulang dengan tangan kosong.
Penghasilannya pun sangat kecil.
Kadang hanya Rp30.000 dalam sehari.
Kadang lebih sedikit.
Bahkan tidak jarang kue basah yang dibawanya seharian berkeliling tidak habis terjual sama sekali.
Artinya, tubuh renta itu harus berjalan kaki dari pagi hingga sore tanpa membawa uang untuk keluarganya.
Namun Abah Entun tetap berangkat setiap hari.
Karena ia tahu ada keluarga yang menunggu di rumah.
Ada kebutuhan yang harus dipenuhi.
Ada dapur yang harus tetap mengepul.
"Kalau Abah nggak jualan, nanti keluarga makan apa..." ucapnya pelan.
Kalimat sederhana yang begitu menyesakkan hati.
Di usia yang seharusnya menjadi masa beristirahat, Abah Entun justru masih mempertaruhkan sisa tenaganya demi bisa membawa pulang beras.
Sering kali lututnya terasa nyeri saat berjalan.
Punggungnya sakit menahan beban.
Napasnya terengah saat menyusuri jalan yang menanjak.
Namun semua itu ia tahan.
Karena bagi Abah Entun, rasa sakit di tubuhnya masih kalah besar dibanding rasa sedih melihat keluarganya kekurangan.
Bayangkan...
Saat banyak kakek seusianya menghabiskan waktu bersama cucu, Abah Entun justru berjalan dari satu tempat ke tempat lain menawarkan kue basah.
Berharap ada yang membeli.
Berharap dagangannya habis.
Berharap malam nanti keluarganya bisa makan.
Setiap kue yang ia bawa adalah harapan.
Setiap langkahnya adalah perjuangan.
Dan setiap senyumnya menyimpan lelah yang mungkin tak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.
#SobatKebaikan,
Abah Entun sudah bekerja keras sepanjang hidupnya.
Namun di usia 84 tahun, ia masih harus berjalan kaki menjajakan kue basah milik orang lain demi mendapatkan penghasilan yang kadang hanya Rp30.000 sehari, bahkan terkadang tidak mendapatkan apa-apa.
Mari ringankan beban Abah Entun di masa senjanya.
Bantuan yang terkumpul akan digunakan untuk membantu kebutuhan hidup sehari-hari, kebutuhan pangan, dan memberikan kehidupan yang lebih layak bagi Abah Entun serta keluarganya.
Karena tidak seharusnya seorang kakek berusia 84 tahun masih harus menghabiskan sisa tenaganya di jalanan hanya untuk memastikan keluarganya bisa makan hari ini.
![]()
Belum ada Fundraiser