
Setiap malam, Ibu Halimah (60 tahun) hanya bisa menangis menahan sakit di lehernya.
Benjolan besar yang tumbuh di lehernya kini pecah dan terus mengeluarkan darah.

Rasa nyerinya menjalar ke seluruh tubuh hingga membuatnya lemas tak berdaya.
“Sakitnya nyebar ke badan semua, kayak ditusuk-tusuk tiap malam,”
ucap Bu Halimah lirih sambil memegangi lehernya.
Awalnya, benjolan itu hanya sebesar biji kelereng.
Namun dari hari ke hari ukurannya terus membesar,
hingga akhirnya pecah dan mengeluarkan darah yang tak berhenti mengalir.

Rasa sakit itu begitu hebat sampai Bu Halimah tak bisa tidur dan sering meraung kesakitan.
Bu Halimah dan suaminya, Pak Ruhiat, sudah berusaha semampunya.
Mereka telah mencoba berbagai pengobatan, baik ke rumah sakit maupun pengobatan tradisional.
Namun biaya yang besar membuat mereka harus berhenti di tengah jalan.
Barang-barang berharga satu per satu habis dijual untuk biaya berobat.
Bahkan rumah mereka pun sudah tidak ada,
karena terpaksa dijual demi menyelamatkan nyawa Bu Halimah.
Kini, mereka menumpang di rumah anaknya.
Bu Halimah hanya bisa berbaring di kasur tipis, sementara lehernya terus membengkak dan berdarah.
“Dulu saya pikir bakal sembuh, tapi malah makin parah. Sekarang badan rasanya gak kuat lagi,” tutur Bu Halimah pelan.
Setiap hari, Pak Ruhiat tetap berusaha menafkahi istrinya dengan berjualan tahu bulat keliling.

Meski sudah tua dan kehilangan pendengaran,
ia tetap mendorong gerobaknya keliling kampung dari pagi hingga malam.
“Kalau ada yang beli, saya suruh nulis di kertas, saya udah gak bisa denger,”
ucapnya pelan sambil tersenyum.
Hasil jualannya pun sangat kecil kadang hanya Rp50.000 sehari, bahkan sering tidak laku sama sekali.
Dengan penghasilan itu, jangankan untuk biaya berobat, untuk makan pun mereka sering kesulitan.
Namun semangat Pak Ruhiat tak pernah padam.
Meski tubuhnya lemah dan telinganya tak lagi mendengar,
ia tetap berkeliling sambil berdoa agar istrinya bisa segera sembuh.

“Saya cuma pengen istri saya sembuh, biar gak nangis tiap malam,”
katanya lirih sambil mengusap kepala Bu Halimah.
Sebelum sakit, Bu Halimah dikenal sebagai ibu tangguh yang bekerja memetik teh di kebun dekat rumahnya.
Setiap pagi ia berangkat dengan senyum, pulang sore membawa hasil untuk keluarganya.
Sementara suaminya, Pak Ruhiat, berjualan tahu bulat dengan penuh semangat.

Meski hidup sederhana, mereka selalu bersyukur dan bahagia.
Namun kini, kebahagiaan itu berubah menjadi kesedihan yang dalam.
Bu Halimah hanya bisa berbaring lemah,
sementara suaminya yang sudah lanjut usia berjuang seorang diri di jalanan.
#OrangBaik,
Bu Halimah kini benar-benar butuh pertolongan kita.
Benjolan di lehernya terus membesar dan berdarah setiap hari,
sementara suaminya yang sudah tua dan tuli masih harus berjualan demi sesuap nasi.
Mari bantu Bu Halimah agar bisa melanjutkan pengobatan
dan bantu Pak Ruhiat yang tak pernah berhenti berjuang di tengah keterbatasannya.
Cara Berdonasi:
Sekecil apa pun bantuanmu sangat berarti.
Mari kita bantu pasangan lansia ini melewati masa tua tanpa rasa sakit,
agar Ibu Halimah bisa kembali tersenyum dan Pak Ruhiat tak lagi berjuang sendirian di jalanan.
![]()
Belum ada Fundraiser