

Mak Encih (94 Tahun), Lansia Sebatang Kara yang Masih Berjuang Demi Sepiring Nasi
Di usia 94 tahun, ketika banyak orang menikmati masa tua dengan ditemani keluarga, Mak Encih justru menjalani hari-harinya seorang diri.

Tanpa suami.
Tanpa anak yang mendampingi.
Tanpa keluarga yang merawat.
Ia tinggal di sebuah gubuk reyot berdinding bambu rapuh. Lantainya sudah lapuk, atapnya bocor. Jika hujan turun, air menetes ke dalam rumah dan angin masuk dari sela-sela dinding. Setiap malam Mak Encih tidur dengan rasa cemas, takut bangunannya roboh sewaktu-waktu.
Namun hidup tak memberinya pilihan untuk beristirahat.

Di usia yang hampir satu abad, Mak Encih masih harus berjualan pisang milik orang lain agar tidak kelaparan. Dengan tubuh yang sudah sangat renta, ia berjalan perlahan menyusuri kampung. Kadang langkahnya goyah. Kadang ia harus berhenti lama untuk mengatur napas. Bahkan tak jarang ia harus merendahkan tubuhnya karena tak lagi kuat berdiri lama.
Bagi Mak Encih, berhenti berjualan berarti tidak makan hari itu.
Penghasilannya tak menentu. Kadang hanya Rp25.000. Kadang tak laku sama sekali dan ia pulang dengan tangan kosong. Tidak ada tabungan. Tidak ada jaminan hari esok. Hanya tekad untuk bertahan hidup.
Di usia 94 tahun, Mak Encih masih berjuang demi sepiring nasi.
#OrangBaik,
Betapa beratnya masa tua yang harus dijalani sendirian dalam keterbatasan. Mak Encih tidak meminta banyak. Ia hanya ingin bisa makan dengan layak dan tidur dengan tenang tanpa takut kelaparan atau kehujanan.
Mari kita ringankan beban hidup Mak Encih.
Sedikit bantuan dari kita bisa menjadi penopang hidup bagi seorang nenek renta yang masih bertahan dengan sisa tenaganya.
![]()
Belum ada Fundraiser